Para Petani dan Profesor Asing Belajar Bersama di Unhas
October 31, 2025
Pertanian Integrasi Rendah Emisi Melalui Sawah Permanen sebagai Alternatif Ekonomi Sirkular dan Solusi Banjir
January 8, 2026

Belajar dari Hulu ke Hilir: Catatan Kaji Terap CBFS 2025 di Yogyakarta

November 2025 — Di tengah tantangan regenerasi petani dan krisis iklim yang semakin nyata, pembelajaran langsung dari praktik lapangan menjadi kunci untuk menumbuhkan wirausaha muda pertanian yang adaptif, inovatif, dan berkelanjutan. Inilah semangat yang dibawa dalam kegiatan Kaji Terap Climate Business Field School (CBFS) 2025 yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 26–28 November 2025.

Selama tiga hari, peserta melakukan kunjungan ke sejumlah unit usaha pertanian dan peternakan yang telah membuktikan bahwa bertani tidak harus identik dengan skala kecil, margin tipis, dan ketergantungan pada tengkulak. Mulai dari budidaya jamur terintegrasi, peternakan modern tanpa ngarit, peternakan kelinci berbasis zero waste, hingga pertanian terpadu berbasis kewirausahaan sosial.

Jamtani-Rycam Menyadari bahwa Kaji Terap ini harus didasari oleh kebutuhan peserta dengan berbagai latar desa yang berbeda beda, ada yang fokus kepada budidaya jamur, Budidaya Domba, Budidaya Kelinci dan limbahnya, Integrated Farming serta budidaya ayam kampung dan penetasan. tentunya dengan kunjungan ke berbagai wilayah tersebut diharapkan peserta dapat mengkaji dan menerapkan seluruh praktik baik yang dilakukan oleh para praktisi sukses tersebut.

Jejamuran: Ketika Jamur Menjadi Gaya Hidup dan Bisnis Terpadu

Kunjungan diawali di Agrowisata Jejamuran, Niron, Pandowoharjo, Sleman. Usaha milik Bapak Ratidjo Harjo Suwarno ini bukan sekadar tempat budidaya jamur, melainkan contoh nyata bagaimana konsep hulu–hilir diterapkan secara konsisten.

Jejamuran membudidayakan 34 jenis jamur, mulai dari jamur tiram, merang, kancing, shiitake, portobello, hingga reishi. Prosesnya mencakup pembuatan baglog, sterilisasi media, penanaman benih di laboratorium, perawatan, panen, hingga pengolahan menjadi aneka menu makanan dan produk oleh-oleh.

Filosofi bisnis Pak Ratidjo sederhana namun kuat: “Bisnis harus dimulai dari rasa suka, lalu dijalani dengan konsistensi.” Dimulai sebagai petani jamur sejak 1997, menjual dari rumah ke rumah, hingga mendirikan rumah makan jamur pada 2006, Jejamuran tumbuh sebagai agrowisata edukatif yang menerima sekolah, komunitas, dan petani.

Dari sisi teknis, peserta belajar bagaimana limbah pertanian seperti jerami, serbuk gergaji, ampas tebu, dan bekatul diolah menjadi media tanam. Bahkan limbah baglog pasca panen kembali dimanfaatkan sebagai kompos. Pengaturan iklim mikro menggunakan AC dan humidifier, serta desain kumbung yang dikelilingi pepohonan, menjadi strategi adaptasi iklim yang relevan bagi petani muda.

Merapi Farm: Beternak Tanpa Ngarit, Berbasis Ilmu dan Efisiensi

Perjalanan berlanjut ke Merapi Farm di Cangkringan, Sleman, sebuah peternakan domba dan kambing modern milik Taufik Mawaddani. Dengan tagline “Beternak Tanpa Ngarit”, Merapi Farm membuktikan bahwa peternakan bisa dijalankan secara efisien, higienis, dan terintegrasi dengan pabrik pakan (feedmill).

Merapi Farm mengembangkan usaha fattening, breeding, milking, kurban, akikah, serta produksi pakan lengkap. Domba dan kambing dipelihara dengan pendekatan kesehatan preventif sejak awal, mulai dari sterilisasi kandang, pemberian vitamin, obat cacing, hingga manajemen pakan berbasis complete feed.

Yang menarik, pakan disuplai dari silase jagung dan limbah pertanian, menciptakan peluang ekonomi baru bagi petani tanaman pangan. Simulasi usaha menunjukkan bahwa limbah jagung dari lahan 1.400 m² dapat menghasilkan laba kotor jutaan rupiah, memperlihatkan potensi integrasi tanaman–ternak yang saling menguntungkan.

Dinaraya Rabbit Farm: Kelinci, Limbah, dan Inovasi Anak Muda

Di Dinaraya Rabbit Farm, Ngemplak, Sleman, peserta bertemu dengan Sandi Dinaraya, petani milenial yang mengembangkan peternakan kelinci dengan sistem kandang galvanis dan conveyor. Sistem ini membuat kandang lebih bersih, efisien, dan memudahkan pengelolaan limbah.

Peternakan ini membudidayakan kelinci pedaging, hias, dan indukan. Hampir seluruh bagian kelinci memiliki nilai ekonomi: daging, bulu, jeroan, tulang, hingga urin dan feses yang diolah menjadi POC dan kompos. Prinsip zero waste benar-benar diterapkan.

Dengan siklus reproduksi yang cepat dan pasar yang luas, kelinci menjadi komoditas alternatif yang potensial bagi petani muda. Apalagi pemasaran dilakukan melalui media sosial, pameran, dan pengiriman antarkota menggunakan jasa ekspedisi.

Rejo Farm: Pertanian Terpadu dan Kewirausahaan Sosial

Kunjungan berikutnya membawa peserta ke Rejo Farm, Sariharjo, Sleman, sebuah contoh kuat sociopreneur integrated farming. Didirikan oleh Dimas Christy Kusuma Putra, Rejo Farm lahir dari tiga masalah utama: tanah kurang produktif, limbah melimpah, dan pengangguran pemuda.

Melalui sistem pertanian terpadu, Rejo Farm mengombinasikan budidaya melon, cabai, ikan lele, ayam kampung, maggot, dan pengolahan limbah menjadi pupuk organik, pakan ternak, serta vermicompost. Hampir semua kebutuhan produksi dipenuhi dari dalam sistem sendiri.

Lebih dari sekadar bisnis, Rejo Farm membuka program Join Operation, melibatkan pemuda lokal mengelola lahan dan usaha secara bersama. Kolaborasi dengan universitas, termasuk UGM, memperkuat aspek riset dan inovasi.

Ragawi Farm: Hilirisasi Ayam Kampung dari Pekarangan Rumah

Kaji terap ditutup di Ragawi Farm, Pandowoharjo, Sleman. Berawal dari modal sekitar Rp300.000 dan 10 indukan ayam, usaha ini tumbuh melalui strategi hilirisasi dan inovasi pembibitan.

Ayam tidak hanya dijual hidup, tetapi juga dalam bentuk karkas dan produk siap masak. Ragawi Farm bahkan mengembangkan mesin penetas telur rakitan sendiri dengan tingkat keberhasilan hingga 90–100%. Pakan diracik mandiri dari limbah lokal seperti ampas tahu, kelapa, dan bekatul.

Model ini menunjukkan bahwa peternakan ayam kampung bisa dimulai dari skala kecil, adaptif terhadap kondisi lokal, dan berkembang melalui pembelajaran berkelanjutan serta jejaring komunitas.

Refleksi: Pelajaran Penting bagi Petani Muda

Kaji Terap CBFS 2025 memberikan satu benang merah yang kuat: pertanian masa depan adalah pertanian yang terintegrasi, adaptif terhadap iklim, dan berbasis nilai tambah. Limbah bukan lagi masalah, tetapi sumber daya. Petani bukan sekadar produsen, melainkan wirausaha dan inovator.

Dari Jejamuran hingga Ragawi Farm, peserta belajar bahwa kunci keberlanjutan bukan hanya pada teknologi, tetapi juga mentalitas, kolaborasi, dan keberanian memulai. Model-model usaha ini relevan untuk direplikasi oleh petani muda di berbagai daerah, termasuk sebagai inspirasi dalam pengembangan program seperti Climate-Based Farming System (CBFS) dan Young Cool Farming Challenge (YCFC).

Di tengah krisis iklim dan tantangan ekonomi, kisah-kisah dari Yogyakarta ini menjadi bukti bahwa bertani tetap memiliki masa depan—asal dijalani dengan ilmu, inovasi, dan keberpihakan pada keberlanjutan.