Pertanian Integrasi Rendah Emisi Melalui Sawah Permanen sebagai Alternatif Ekonomi Sirkular dan Solusi Banjir
Penulis: Jamtani Team
Pangandaran,13 November 2025.
Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) memperkenalkan inovasi Sawah Permanen, sebuah pendekatan pertanian rendah emisi yang memadukan sistem budidaya padi, bebek, ikan serta penerapan pupuk briket organik sebagai model ekonomi sirkular dan solusi nyata terhadap permasalahan banjir di lahan pertanian. Inovasi akan dikolaborasikan antara JAMTANI, Rural Youth Climate Action Movement (RYCAM), Universitas Padjajaran (UNPAD), Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) serta Centre for Rural Development (SLE) Humboldt University Berlin.
Dalam rangka memperkenalkan konsep tersebut, JAMTANI menggelar kegiatan tanam padi bersama yang dilaksanakan di Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran. Kegiatan ini melibatkan Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, perwakilan dari SLE Humboldt University, Universitas Padjadjaran, peserta Climate Business Field School (CBFS) RYCAM, Kepala Desa Babakan, serta kelompok tani setempat. Kegiatan ini menjadi simbol sinergi lintas lembaga dalam mendorong inovasi pertanian adaptif iklim yang mampu menekan emisi dan memperkuat ketahanan pangan lokal.
Konsep Sawah Permanen lahir dari pengalaman lapangan Kustiwa Adinata, Project Leader JAMTANI, yang bereksperimen di lahan rawa dan lembah di Pangalengan, Kabupaten Bandung, pada ketinggian 1.750 mdpl. Lahan dengan kadar besi (Fe) tinggi yang sebelumnya tidak produktif berhasil diubah menjadi lahan subur dengan memanfaatkan bahan organik seperti semak belukar, jerami, batang pisang, dan eceng gondok. Melalui pengelolaan tata air yang tepat serta pemanfaatan mikroba pengurai, lahan tersebut mampu menghasilkan panen kentang dengan input pupuk organik yang sangat minimal. Hasil uji coba ini menginspirasi pengembangan Sawah Permanen sebagai model pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim dan efisien dalam penggunaan sumber daya.
Sebagian besar lahan pertanian di wilayah kerja JAMTANI, seperti Pangandaran dan Cilacap, berada di daerah cekungan yang mudah tergenang. Ketika musim hujan datang lebih awal atau tidak menentu, petani kesulitan menentukan waktu tanam yang tepat. Akibatnya, banyak lahan hanya dapat ditanami satu kali setahun, bahkan sering gagal panen akibat banjir dan keracunan salinitas pada akar tanaman. Melalui inovasi Sawah Permanen, JAMTANI berupaya menghadirkan solusi berbasis ekologi dan ekonomi dengan menciptakan lahan berbedengan permanen yang mampu menahan genangan, memperbaiki aerasi tanah, serta mengurangi risiko kehilangan hasil akibat perubahan iklim.
Secara teknis, Sawah Permanen dibangun dengan bedengan selebar 2,65 meter yang dibagi menjadi dua jalur tanam, diapit oleh parit pengatur air selebar 40 cm. Lapisan bawah bedengan diisi bahan organik seperti jerami, batang pisang, dan limbah hijauan ternak yang difermentasi menggunakan mikroba alami, lalu ditimbun kembali dengan tanah. Desain ini memungkinkan air terserap dan mengalir dengan baik, menjaga tanah tetap gembur dan bernutrisi. Melalui sistem ini, emisi karbon dioksida (CO₂) dari penggunaan traktor dapat ditekan, emisi metana (CH₄) akibat genangan berlebih berkurang, dan emisi dinitro oksida (N₂O) dari pupuk nitrogen dapat diminimalkan.
Dalam tahap berikutnya, JAMTANI berencana memadukan Sawah Permanen dengan sistem budidaya ikan dan bebek di saluran air bedengan sebagai bentuk integrasi pangan dan ekonomi sirkular. Ikan dan bebek yang dibudidayakan berfungsi tidak hanya sebagai sumber pendapatan tambahan bagi petani, tetapi juga membantu mengendalikan hama alami seperti keong mas dan rumput. Selain itu, JAMTANI tengah mengembangkan pupuk briket organik dari limbah jerami dan kotoran ternak untuk digunakan dalam adaptasi Solusi banjir di sawah ini. Pupuk tersebut akan menjadi bagian penting dari model ekonomi sirkular di desa, di mana limbah pertanian dikembalikan ke lahan sebagai sumber nutrisi yang berkelanjutan.
“Inovasi ini bukan sekadar cara baru menanam padi, melainkan cara baru memandang pertanian sebagai sistem kehidupan yang terintegrasi,” ujar Kustiwa Adinata, Project Leader JAMTANI. “Melalui pertanian integrasi rendah emisi, kita tidak hanya menjaga bumi dari perubahan iklim, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi petani melalui diversifikasi hasil.”
Rencana implementasi Sawah Permanen dilakukan melalui Demonstration Plot (Demoplot) di kegiatan Climate Business Field School (CBFS) JAMTANI di Pangandaran. Program ini juga akan melibatkan peneliti dari Fakultas Pertanian Unpad dan BRIN sebagai bagian dari kegiatan co-research. Pengujian akan mencakup pengukuran serapan karbon tanah, pengurangan emisi gas rumah kaca, dan efisiensi biaya produksi. Hasil riset ini diharapkan dapat memperkuat data ilmiah mengenai kontribusi Sawah Permanen terhadap target Net-Zero Emission sektor pertanian Indonesia.
JAMTANI menargetkan model ini dapat direplikasi di berbagai wilayah, terutama daerah dengan risiko banjir tinggi. Pendekatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan nasional, tetapi juga menjadi langkah nyata petani muda Indonesia dalam menciptakan masa depan pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.
Melalui semangat kolaborasi dan inovasi, JAMTANI membuktikan bahwa upaya menuju pertanian rendah emisi tidak harus dimulai dari teknologi mahal, melainkan dari keberanian petani mengubah cara pandang terhadap lahan dan sumber daya yang dimiliki. Sawah Permanen menjadi simbol bagaimana ekonomi sirkular, konservasi lingkungan, dan kesejahteraan petani dapat berjalan seiring menuju masa depan pangan Indonesia yang berkelanjutan.
Kontak Media
JAMTANI Indonesia
Website: www.jamtani.or.id
Email: info.jamtani@gmail.com
Telepon: 0265-7501156


