Penulis: Bayu Putra Yamin Lande
Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati International Women’s Day sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan di berbagai sektor kehidupan. Peringatan ini juga menjadi ruang refleksi tentang bagaimana perempuan berkontribusi dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk krisis iklim.
Sejalan dengan semangat tersebut, Yayasan Motivator Pembangunan Masyarakat (MPM) berkolaborasi dengan Universitas Kristen Indonesia Toraja menyelenggarakan talkshow bertema “Hutan, Pemuda, dan Keadilan Gender: Membangun Aksi Iklim Berbasis Komunitas Lokal.” Kegiatan ini menjadi ruang dialog untuk mempertemukan perspektif akademisi, komunitas, dan pemuda dalam memperkuat aksi iklim yang inklusif dan berkeadilan.
Diskusi ini menyoroti bagaimana perubahan iklim semakin nyata dirasakan oleh komunitas yang hidup dekat dengan sumber daya alam, seperti hutan dan lahan pertanian. Perubahan pola musim, berkurangnya ketersediaan air, penurunan hasil pertanian, deforestasi hutan, alih fungsi lahan yang merusak ekosistem, hingga meningkatnya risiko bencana menjadi tantangan yang semakin nyata dialami oleh masyarakat. Dalam konteks ini, perempuan dan pemuda seringkali berada di garis depan dalam merasakan dampak perubahan tersebut, sekaligus menjadi aktor penting dalam upaya adaptasi dan solusi berbasis komunitas.

Talkshow ini menghadirkan sejumlah narasumber yang merepresentasikan perspektif lintas sektor. Dari kalangan akademisi, Driyunitha, dosen Fakultas Pertanian UKI Toraja, membahas peran universitas dalam mendorong pertanian dan kehutanan yang berkelanjutan serta adaptif terhadap perubahan iklim. Ia menekankan pentingnya sinergi antar program studi dan fakultas dalam menghasilkan riset yang dapat berkontribusi pada pengambilan kebijakan berbasis pengetahuan.
Perspektif pengelolaan hutan yang inklusif disampaikan oleh Abdurrahman Abdullah dari Forest and Society Research Group Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin. Ia menyoroti pentingnya pendekatan pengelolaan hutan yang tidak hanya berkelanjutan secara ekologis, tetapi juga adil secara sosial dengan memastikan keterlibatan perempuan dan kelompok muda dalam proses pengambilan keputusan.
Sementara itu, Ruth Tandi Ramba selaku Direktur MPM menekankan bahwa aksi iklim yang efektif tidak dapat dilepaskan dari peran komunitas lokal. Menurutnya, perempuan dan pemuda memiliki pengetahuan lokal, pengalaman, serta energi perubahan yang penting dalam menjaga keberlanjutan hutan dan pertanian di tingkat komunitas.
Peran pemuda juga disoroti oleh Alfianus Hanssel dari Mifarm yang membahas peluang pemuda dalam sektor pertanian dan kehutanan melalui pendekatan agropreneurship yang berkelanjutan. Ia menegaskan bahwa generasi muda memiliki potensi besar untuk mengembangkan inovasi, teknologi, dan model usaha yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga ramah terhadap lingkungan.
Di akhir sesi, talkshow ini kembali menegaskan pentingnya inklusivitas dan kesetaraan gender dalam pembangunan berkelanjutan. Perempuan dan pemuda perlu terus dilibatkan secara aktif dalam perencanaan, pengambilan keputusan, hingga implementasi berbagai inisiatif lingkungan. Keterlibatan ini menjadi kunci dalam membangun aksi iklim berbasis komunitas yang adil, berkelanjutan, dan mampu merespon berbagai tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks.
Melalui ruang dialog seperti ini, RYCAM memandang akan semakin banyak pemuda dan perempuan yang terinspirasi untuk mengambil peran dalam menjaga hutan, memperkuat ketahanan komunitas, serta mendorong lahirnya solusi-solusi iklim dari tingkat lokal.


