Harapan Iklim
Dunia Melalui
Mata Generasi Muda
Gambar-gambar yang ditampilkan dalam bagian ini merupakan tiga gambar teratas dari wilayah tersebut, yang dipilih oleh juri berdasarkan relevansi tematik yang kuat, kreativitas, pesan, dan dampaknya, serta kualitas foto yang luar biasa. Gambar-gambar ini mengajak penonton untuk masuk ke dalam narasi visual yang hidup dan menampilkan keahlian seni dan niat di balik setiap pengambilan gambar.
Langkah Hijau Pemuda
Difoto oleh: Muhammad Misbah Afif
Simbol dari Aksi Nyata Anak Muda
Difoto oleh: Romi Bia Santo
Merawat Bumi di Balik Kaca dan Harapan di Tengah Krisis Iklim
Difoto oleh: Ritzyinrain Expectian Trisna
Petani Milenial
Difoto oleh: Maruf
Lima pemenang dalam Kategori Harapan terpilih sebagai lima foto teratas berikutnya dari wilayah tersebut, dipilih dengan kriteria yang sama seperti di atas.
Harapan Terakhir:Diatas Jejak Penjarahan
Difoto oleh: Salziadi
Seorang pemuda merawat Bunga Telang (Clitoria Ternatea)
Difoto oleh: I Gede Ananda Widjaksana
Pulang dari Ladang:Untuk Membawa Harapan Baru
Difoto oleh: M. Wisnu Aji Pambayun
Suara Hujan, Suara Perubahan
Difoto oleh: Aditya Dwinandata
Pemilahan Plastik Tempat - Pengolahan Sampah
Difoto oleh: Kenzie Fawwaz Nixap K.
Tangan Tangan yang Tak Pernah Lelah
Difoto oleh: Deddy Nandata
Belajar Tekonologi dalam Bertani
Difoto oleh: Adi Harianto
Kolaborasi Antargenerasi Demi Pangan yang Berkelanjutan
Difoto oleh: Doril Wirli Septriel
Dalam kategori ini, tingkat keterlibatan pengikut memengaruhi hasilnya. Tujuh foto yang sangat diapresiasi—sebelumnya dinobatkan dalam kategori “Best Pictures” dan “Hope”—diposting di Instagram RYCAM, di mana audiens media sosial memilih favorit mereka. Tiga foto yang ditampilkan per wilayah adalah yang paling resonan dengan komunitas.
WILAYAH TIMUR
Bersama Menanam Harapan (Perjuangan Petani Lintas Generasi Menghadapi Perubahan Iklim)
Difoto oleh: Greselia Mangera
Hidroganik Padi diatas Kolam Lele
Difoto oleh: Afandi Teguh Afriyanto
STOP Bilang Kalau Belanja pakai Wadah/Tas Belanja itu Ribet
Difoto oleh: Novianti Sampepadang & Brigita Bondong
Menanam Benih Harapan
Difoto oleh: Dede. K
Penambang Batu Warna
Difoto oleh: Brian Alvin Baud
Di sini, suara para ahli dan pemangku kepentingan menjadi panduan dalam proses seleksi. Tujuh foto, masing-masing disertai dengan cerita inspiratif dan personal, ditinjau oleh komite khusus dari Tim RYCAM. Dari proses ini, tiga gambar yang paling berhasil menginspirasi tindakan iklim dan koneksi emosional dipilih karena kemampuannya untuk memicu refleksi dan memotivasi penonton.
WILAYAH BARAT
Harmoni Alam: Harapan Wanita Muda dalam Menuai Harapan
Keterangan
Petani wanita di tengah hamparan sawah hijau, dengan latar pegunungan dan awan berkabut. Berlokasi di desa Nangerang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, pada ketinggian 1050 mdpl. Petani muda tersebut sedang mencabut gulma di antara tanaman padi. Aktivitas ini merupakan bagian dari upaya menjaga pertumbuhan padi agar optimal secara manual tanpa menggunakan herbisida demi menjaga biodiversitas dan keberlanjutan ekosistem lahan.
WILAYAH TIMUR
Semangat Pemuda di Tengah Hamparan Padi
Keterangan
Di tengah hamparan padi yang hijau menguning, seorang pemuda berdiri dengan penuh perhatian, menunduk sedikit memeriksa bulir-bulir padi yang mulai menua. Dengan tangan telanjang, ia menyentuh dan meraba tekstur bulir, mencoba mengamati warna, bentuk, dan kepadatannya tanda-tanda yang akan menentukan kapan panen harus dimulai. Tatapannya tajam namun tenang, menunjukkan kepedulian dan ketekunan yang jarang terlihat dari generasi muda pada umumnya. Pemuda ini generasi yang sadar akan pentingnya menjaga bumi dan merawat alam dengan bijaksana.Langit biru terbentang luas di atasnya, namun di balik keindahan itu, ancaman perubahan iklim membayangi: hujan yang tak menentu, serangan hama yang kian sulit dikendalikan, dan musim panen yang terus bergeser. Namun, ia tidak menyerah. Dengan bekal pengetahuan dari literasi digital, pelatihan pertanian berkelanjutan, dan semangat cinta tanah, ia memilih untuk menjadi bagian dari solusi. Ia mulai menerapkan metode pertanian ramah lingkungan: menggunakan pupuk organik, mengelola air secara efisien, menanam varietas lokal yang adaptif terhadap cuaca ekstrem, hingga mendukung sistem pertanian terpadu yang minim emisi karbon.Kehadirannya di sawah bukan hanya menggantikan peran generasi sebelumnya, tapi juga membawa harapan baru bahwa anak muda bisa berdiri di garis depan perjuangan melawan krisis iklim. Lewat langkah kecilnya, ia sedang menanam benih masa depan: masa depan yang hijau, lestari, dan berkelanjutan.
Menghadapi perubahan iklim bermodalkan pekarangan rumah
Keterangan
Pekarangan rumah yang dikelola secara ramah lingkungan dapat menjadi kunci penting dalam meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi dampak perubahan iklim. Dengan memanfaatkan lahan pekarangan untuk menanam tanaman pangan lokal, sayuran, dan buah-buahan, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan keluarga, meningkatkan diversifikasi pangan, serta mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal. Pemanfaatan pekarangan rumah yang ramah lingkungan merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan ketahanan pangan, beradaptasi dengan perubahan iklim, serta mendukung pembangunan berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan ini, kita dapat mewujudkan masyarakat yang mandiri pangan dan tangguh terhadap dampak perubahan iklim. (Potret pemuda desa selat beting, Panai Tengah, labuhanbatu, Sumatra Utara dalam menghadapi perubahan iklim bermodalkan pekarangan rumah.
Senyum Pemuda Pejuang Bumi Hijau
Keterangan
“Di ujung desa ada yang senantiasa mengabaikan senyum sang surya demi kebutuhan insan”. Bertani bukan tentang bertempur dengan tanah, tapi bagaimana berkolaborasi dengan alam dan memastikan mereka berlanjut. Waktu berubah manusia berubah, tak selamanya insan yang dulu bertahan hingga nanti, namun aksi perubahan sekarang akan mempertahankan alam dan lingkungan selamanya. Pemuda tidak memiliki cangkul dan tidak pandai mencangkul, tapi pemuda memiliki pengetahuan, keterampilan dan keberanian yang mampu membawa perubahan dunia. Pemuda mampu berperan dalam pertanian berkelanjutan dengan menuangkan ilmu dan keterampilan untuk menciptakan dan mengoperasikan teknologi pertanian yang modern, seperti berkontribusi dalam penerapan teknologi diversifikasi pertanian seperti yang telah dilakukan di Desa To’ Pao, kecematan Rembon, Kabupaten Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Pemuda! Petani Muda, siapa takut!
Tangan tangan gender dalam aksi tumpukan sampah
Keterangan
"Sampah adalah warisan kita yang tak kasat mata, tetapi dampaknya begitu nyata" Pada 13 Januari 2025, grup WhatsApp Bank Sampah Pangandaran dipenuhi kabar mengejutkan—TPA Purbahayu resmi ditutup karena overload. Sampah yang terus bertambah tanpa solusi berkelanjutan kini menjadi ancaman nyata bagi lingkungan dan masyarakat. Seminggu kemudian, saya mengajak saudara saya, @hakim, seorang fotografer, untuk melihat langsung kondisi di sana. Berbekal kamera Fujifilm X-S10 dan lensa 7Artisans 35mm f/1.2, kami mencoba mengabadikan realitas yang jarang tersorot. Saat tiba di lokasi, saya tertegun. Di antara gunungan sampah yang mencerminkan pola konsumsi kita, sekelompok warga—kebanyakan ibu-ibu—tanpa lelah memilah sampah plastik yang masih bisa didaur ulang. Mereka bekerja lebih dari 8 jam sehari, menyelamatkan lingkungan dengan cara yang mungkin dianggap sepele, namun berdampak besar. Tanpa mereka, lebih banyak plastik akan berakhir terbakar, melepaskan gas beracun yang memperparah perubahan iklim. Di balik lensa, saya menangkap potret ketangguhan mereka. Di balik tumpukan sampah, saya melihat aksi nyata melawan krisis iklim. Ini bukan hanya perjuangan mereka, ini adalah tanggung jawab kita bersama.
Indahnya Alam, Tapi Kok Dibakar?
Keterangan
Di atas hamparan bukit hijau yang menakjubkan, sekelompok anak muda menikmati waktu bersama di tengah alam. Pemandangan pegunungan yang megah menjadi latar sempurna bagi kebersamaan mereka. Tenda-tenda berdiri di kejauhan, menandakan tempat ini sebagai destinasi favorit para pendaki. Namun, di tengah keindahan ini, asap tipis mengepul—bukan dari perapian biasa, melainkan dari sampah yang dibakar. Pembakaran sampah di alam terbuka bukan hanya mencemari udara, tetapi juga berkontribusi pada krisis lingkungan yang lebih besar. Asap yang dihasilkan mengandung karbon dioksida (CO₂) dan zat berbahaya lainnya yang memperburuk pemanasan global. Kejadian kecil seperti ini, jika terjadi berulang kali di banyak tempat, menjadi bagian dari masalah besar: perubahan iklim yang semakin tak terkendali. Gunung dan bukit yang hijau saat ini mungkin tak selamanya seperti itu. Jika manusia terus lalai dalam menjaga lingkungan, keseimbangan ekosistem bisa terganggu, suhu meningkat, dan keindahan yang dulu dinikmati perlahan memudar. Menikmati alam seharusnya berjalan seiring dengan menjaga kelestariannya agar generasi mendatang masih bisa merasakan pesona yang sama.




























