Young Cool Farming Challenge: Pembuktian Petani Muda Menjawab Krisis Iklim

Peran MPM melalui Sosialisasi Kewirausahaan dan Komersialisasi Produk
June 3, 2025
Gerakan Iklim Anak Muda Lintas Batas: MPM Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia
June 13, 2025

Young Cool Farming Challenge: Pembuktian Petani Muda Menjawab Krisis Iklim

Juni 2025 — Saat dunia menghadapi tekanan krisis iklim dan menurunnya minat generasi muda pada pertanian, inisiatif segar hadir dari Indonesia, Young Cool Farming Challenge (YCFC). Kompetisi ini tidak hanya menjadi ruang adu gagasan, tetapi juga wadah petani muda mengembangkan model usaha tani yang ramah iklim, bernilai ekonomi tinggi, dan berbasis solusi nyata.

YCFC diinisiasi oleh Jaringan Masyarakat Tani Indonesia (JAMTANI) dan Motivator Pembangunan Masyarakat (MPM), bekerja sama dengan SLE-Humboldt University, sebagai bagian dari gerakan Rural Youth Climate Action Movement (RYCAM). Kompetisi ini menjadi arena regenerasi pertanian, menjawab tantangan iklim dan pembangunan ekonomi berbasis komunitas. Pendaftaran proposal, akan dibuka tanggal 15 Agustus hingga 30 September 2025. Informasi lengkap YCFC bisa diakses di website RYCAM, www.rycam.id

Direktur JAMTANI, Kustiwa Adinata mengatakan “YCFC adalah bukti bahwa bertani bukan hanya soal bertahan hidup, tapi juga tentang tumbuh dan membangun masa depan.” Dia menambahkan “Kami ingin membalik stigma bahwa pertanian itu kuno. Lewat YCFC, anak muda bisa membuktikan bahwa bertani bisa keren, adaptif, dan menguntungkan. Ini bukan sekadar kompetisi—ini adalah gerakan perubahan.”

Kompetisi ini hadir dengan tema Youth-Led Solutions for a Climate-Resilient Agriculture (Inovasi Pemuda Menuju Pertanian Tangguh Iklim) mendorong  pemuda menciptakan sistem pangan yang tangguh iklim, rendah emisi dan meningkatkan ekonomi. YCFC adalah ajakan terbuka bagi seluruh petani muda untuk berkontribusi dalam transformasi sistem pangan yang lebih tangguh, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Mengapa YCFC Penting?

Indonesia tengah menghadapi krisis regenerasi petani. Berdasarkan data BPS, mayoritas petani di Indonesia saat ini berusia di atas 45 tahun, sementara hanya sekitar 30% yang berada di bawah usia 35 tahun. Ketimpangan ini mengancam keberlanjutan sektor pertanian. Di sisi lain, pertanian juga menjadi salah satu kontributor emisi gas rumah kaca, namun  minim terlibat dalam diskusi iklim nasional. Padahal, Indonesia telah menetapkan target penurunan emisi sebesar 29% secara mandiri dan hingga 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.

Lebih dari itu, petani muda di lapangan kerap menghadapi tantangan ekonomi: akses pasar yang terbatas, harga jual yang tidak stabil, hingga kurangnya nilai tambah dari hasil panen. YCFC hadir menjawab semua tantangan ini, dengan membekali mereka menjadi pelaku utama transisi menuju pertanian yang adaptif terhadap iklim dan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi.

Apa yang Ditawarkan oleh YCFC?

YCFC dirancang sebagai program kompetisi sekaligus inkubasi ide usaha tani berbasis iklim. Para peserta akan mengajukan proposal dengan menggunakan pendekatan Iklim dan ekonomi. Dalam proposal tersebut terdapat Potensi pengurangan emisi, Business Model Canvas dan analisa Usaha Tani diharapkan dapat  mengintegrasikan inovasi, keberlanjutan, dan kelayakan ekonomi.

Peserta dapat mengumpulkan berbagai ide proposal yang  bisa ditawarkan. Ide yang diajukan dapat berupa solusi terhadap berbagai isu pertanian (Input, Budidaya ataupun Pasca Panen) di tengah krisis iklim dengan potensi penurunan emisi. Dapat pula berisi ide strategi peningkatan nilai tambah seperti pengolahan hasil panen, digitalisasi pemasaran dan diversifikasi usaha tani.

Bagi proposal yang lolos, akan mendapatkan sejumlah dukungan fasilitas. Diantaranya berupa

  • Dukungan dana implementasi  dan Pelatihan dan pendampingan teknis. Mereka juga
  • Beresempatan untuk melakukan kampanye lebih luas mengenai Inovasi menghadapi krisis iklim di masyarakat.

Lebih dari sekadar hadiah, YCFC mendorong terbentuknya ekosistem gerakan anak muda dan pertanian berkelanjutan untuk mendukung regenerasi pertanian Indonesia.

Kriteria Penilaian: Mencari Gagasan yang Inovatif dan Berdampak

YCFC mengutamakan gagasan yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aplikatif dan berdampak luas. Proposal akan dinilai berdasarkan sejumlah kriteria. Kriteria pertama adalah inovasi dan kreativitas ide, terutama pada potensi dalam penerapan praktik pertanian net-zero yang rendah emisi, hemat energi, dan efisien. Kedua, proposal akan dinilai dari kelayakan dan potensi ekonomi, berupa peningkatan pendapatan dan dampak sosial/lingkungan dalam komunitas. Terakhir, ide dalam proposal itu juga akan dilihat dari penerapannya dalam menyelesaikan masalah lokal. Harapannya, proposal terpilih akan menjadi model praktik pertanian berkelanjutan yang dapat direplikasi oleh komunitas petani lainnya.

Kolaborasi untuk Pertanian Masa Depan

YCFC diharapkan dapat melibatkan berbagai pihak dari tingkat lokal hingga nasional. Termasuk diantaranya dari pemerintah daerah seperti Dinas Pertanian dan Dinas Lingkungan Hidup. Kompetisi ini juga akan melibatkan komunitas petani muda, karang taruna dan kelompok perempuan seperti Kelompok Wanita Tani dan PKK. Di tingkat nasional, YCFC juga akan melibatkan akademisi dan organisasi iklim seperti Indonesia Climate Change Alliance.