Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini, MiFarm dan RYCAM Ajak Anak-anak KB Mutiara Pangleon Belajar Menanam

RYCAM Bergerak: Solidaritas untuk Petani Muda Young Cool Farmer Challenge di Manggarai
October 27, 2026

Tanamkan Kepedulian Lingkungan Sejak Dini, MiFarm dan RYCAM Ajak Anak-anak KB Mutiara Pangleon Belajar Menanam

Penulis: Bayu Putra Yamin Lande

Tana Toraja, 23 Oktober 2026 — Mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan tidak harus dimulai dari hal-hal besar. Melalui kegiatan menanam, anak-anak dapat belajar mengenal alam, memahami proses pertumbuhan tanaman, dan membangun kebiasaan merawat lingkungan sejak dini.

Semangat tersebut diwujudkan melalui kegiatan Edukasi Pertanian Ramah Lingkungan dan Praktik Menanam bersama anak-anak KB Mutiara Pangleon, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pada Jumat (23/10). Kegiatan ini digagas oleh MiFarm bersama KB Mutiara Pangleon, dengan dukungan kolaborasi dari Rural Youth Climate Action Movement (RYCAM).

Sebanyak 17 peserta didik, didampingi oleh guru, tiga anggota MiFarm, dan dua staf RYCAM dari MPM, mengikuti kegiatan yang dirancang melalui pendekatan belajar sambil bermain. Anak-anak diajak mengenal tanaman secara langsung dan mempraktikkan cara menanam dengan cara yang sederhana, menyenangkan, serta sesuai dengan pengalaman sehari-hari mereka.

Edukasi Pertanian Ramah Lingkungan dengan Praktik Menenam Bersama KB Mutiara Pangleon, Tana Toraja (23/10)

Belajar Mengenal Tanaman melalui Pengalaman Langsung

Kegiatan diawali dengan pengenalan bagian-bagian tanaman, karakteristik pertumbuhannya, serta kebutuhan dasar agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Tim MiFarm menggunakan tanaman cabai sebagai media demonstrasi untuk membantu anak-anak mengamati akar, batang, daun, bunga, dan buah, sekaligus mengenali manfaat tanaman dalam kehidupan sehari-hari.

Proses belajar kemudian dilanjutkan dengan praktik menanam bibit menggunakan polybag dan media tanam yang telah disediakan. Dengan pendampingan tim MiFarm, guru, dan RYCAM, anak-anak mencoba menanam bibit serta melakukan penyiraman sebagai bagian dari perawatan awal tanaman.

Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mengamati, mencoba, dan menemukan pengetahuan melalui pengalaman mereka sendiri. Pertanyaan sederhana, seperti apa yang dibutuhkan tanaman agar dapat tumbuh dan apa yang terjadi jika tanaman tidak disiram, dapat menjadi pintu masuk untuk membangun rasa ingin tahu dan pemahaman tentang pentingnya merawat tanaman.

Pengalaman ini juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk belajar mengikuti arahan, menunggu giliran, menggunakan alat dan bahan dengan pendampingan, serta saling membantu selama proses menanam. Dengan demikian, kegiatan pertanian dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kemandirian, tanggung jawab, dan semangat gotong royong sejak usia dini.

Praktik Menanam sebagai Pembelajaran yang Bermakna

Kegiatan ini juga dapat dikaitkan dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) dalam pendidikan, yang mendorong anak untuk membangun pemahaman melalui pengalaman belajar yang aktif dan kontekstual. Dalam praktik menanam, anak-anak tidak hanya diperkenalkan pada pengetahuan tentang tanaman, tetapi juga diajak menerapkannya melalui kegiatan nyata dan menceritakan kembali pengalaman yang mereka peroleh.

Pendekatan tersebut tercermin melalui tiga prinsip pembelajaran, yaitu berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Prinsip berkesadaran hadir ketika anak mulai memperhatikan lingkungan dan mengenali kebutuhan tanaman. Prinsip bermakna diwujudkan melalui pengalaman menanam yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan prinsip menggembirakan terlihat dari kesempatan anak untuk bereksplorasi dan belajar melalui praktik langsung.

Setelah kegiatan menanam, anak-anak dapat melanjutkan pengalaman belajarnya dengan mengamati perubahan tanaman dan melakukan penyiraman secara rutin. Tanaman yang dibawa pulang diharapkan menjadi media pembelajaran bersama keluarga, sementara tanaman yang ditinggalkan di sekolah dapat digunakan untuk kegiatan pengamatan dan perawatan bersama.

Dengan cara ini, pembelajaran tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Anak-anak memiliki kesempatan untuk memahami bahwa pertumbuhan membutuhkan waktu, perhatian, dan perawatan yang berkelanjutan.

Dari Inisiatif Petani Muda Menuju Edukasi Lingkungan

Bagi MiFarm, kegiatan edukasi ini menjadi salah satu bentuk keberlanjutan inisiatif yang dikembangkan setelah mengikuti program Young Cool Farmer Challenge (YCFC) Season 1. Sebelumnya, inisiatif Mi Farm mengembangkan pembibitan cabai ramah iklim diimplementasikan melalui kelompok Malada Grup. Melalui MiFarm, pengalaman dan semangat yang diperoleh dari program tersebut kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

“Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa langkah kami, yang sebelumnya tergabung dalam Malada Grup, tidak berhenti setelah YCFC Season 1 berakhir. Melalui MiFarm, kami berupaya melanjutkan semangat dan dampak positif yang telah dibangun selama program tersebut. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi pengalaman yang berkesan bagi adik-adik di KB Mutiara Pangleon, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini melalui pengenalan pertanian ramah lingkungan dan praktik menanam secara langsung.” ujar Alfian, Mi Farm

Pengalaman MiFarm menunjukkan bahwa inisiatif anak muda di bidang pertanian perlu dibangun sejak dini. Melalui edukasi dan keterlibatan masyarakat, praktik pertanian dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus sarana memperkenalkan nilai-nilai keberlanjutan kepada kelompok usia yang lebih luas.

Mengajak Anak Muda Memulai Perubahan dari Lingkungan Terdekat

Kolaborasi MiFarm, KB Mutiara Pangleon, dan RYCAM memperlihatkan bahwa aksi peduli lingkungan dapat dimulai dari lingkungan terdekat melalui kegiatan sederhana yang melibatkan masyarakat. Pengalaman ini juga menjadi kesempatan untuk menerjemahkan pengetahuan dan inisiatif di bidang pertanian menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat bagi orang lain.

Keterlibatan RYCAM dalam kegiatan ini sejalan dengan upaya mendorong anak muda menjadi agen perubahan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Perubahan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan membutuhkan partisipasi berbagai pihak, termasuk generasi muda yang berani memulai langkah konkret dari komunitasnya sendiri.

Melalui kegiatan ini, pertanian diperkenalkan bukan hanya sebagai aktivitas untuk menghasilkan pangan, tetapi juga sebagai sarana belajar tentang alam, tanggung jawab, dan keberlanjutan. Dari bibit yang ditanam bersama, anak-anak mulai mengenal arti merawat kehidupan, sementara inisiatif anak muda memperoleh ruang untuk tumbuh dan memberi dampak bagi masyarakat.