Penulis: Fisal Hafiz
π± Cerita Implementasi RYCAM Young Cool Farmer Challenge
Farmtastic Team β Pertanian Terintegrasi Kopi, Lebah, dan Ternak
π Sidikalang 2026
Di perbukitan Sidikalang, Sumatera Utara, sekelompok anak muda dari Farmtastic Team sedang mencoba cara bertani yang sedikit berbeda. Mereka tidak hanya menanam kopi, tetapi juga menggabungkannya dengan cabai merah, lebah madu, ayam, hingga budidaya maggot dalam satu sistem pertanian terpadu.
Melalui program Rural Youth Climate Action Movement β Young Cool Farmer Challenge (RYCAM YCFC), tim ini berusaha membangun sistem pertanian yang saling terhubung. Setiap bagian usaha tidak berdiri sendiri, tetapi saling mendukung satu sama lain, sehingga lahan menjadi lebih produktif sekaligus tetap ramah lingkungan
Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga memperkuat ketahanan usaha tani sekaligus menjaga praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Perjalanan bulan ini dimulai dengan upaya optimalisasi lahan kopi. Tim menanam cabai merah di sela-sela tanaman kopi, sebuah strategi diversifikasi yang memanfaatkan ruang kosong di antara tanaman utama. Dengan sekitar 2.000 batang cabai merah yang ditanam dari bibit hasil persemaian sendiri, lahan kopi kini memiliki fungsi ganda: tetap menghasilkan kopi sekaligus memberi peluang tambahan dari hasil hortikultura.
Di sisi lain, tim juga menghadapi proses belajar dari kegagalan. Lahan wortel yang sebelumnya tidak tumbuh optimal akhirnya diolah kembali dan diganti dengan tanaman mentimun. Keputusan ini diambil untuk memastikan lahan tetap produktif sekaligus menyesuaikan dengan kondisi cuaca dan kesesuaian tanaman di lokasi.
Untuk menjaga kesehatan tanaman, tim juga menerapkan berbagai praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:
- penyiangan rumput di sekitar tanaman kopi
- pembuatan bedengan tanam
- pemasangan mulsa
- penyemprotan pestisida nabati dan zat pengatur tumbuh
Penyemprotan dilakukan menggunakan sprayer listrik yang hemat energi. Dalam sekali penyemprotan untuk tanaman cabai dan kopi, alat ini hanya digunakan sekitar delapan menit dengan konsumsi energi sekitar 0,25 kWh.
Pendekatan ini membantu tim tetap menjaga produktivitas tanaman tanpa ketergantungan besar pada bahan kimia.

Tidak hanya fokus pada tanaman, sistem integrasi juga diperkuat melalui budidaya lebah madu. Pada bulan ini, tim berhasil memanen sekitar 2 liter madu murni, yang kemudian dikemas menjadi empat botol berukuran 500 ml. Tiga botol terjual dengan harga Rp300.000 per botol, sementara satu botol terjual Rp230.000, sehingga menghasilkan pendapatan sebesar Rp1.130.000.
Sementara itu, di sektor peternakan ayam, tim melakukan berbagai kegiatan pemeliharaan, termasuk pemberian pakan campuran jagung dan pakan pabrikan. Untuk mendukung kesehatan ternak secara alami, tim juga membuat jamu organik untuk ayam sebanyak 7 liter dengan bahan seperti kunyit, temulawak, bawang putih, gula merah, dan EM4 peternakan. Ramuan tersebut difermentasi selama sekitar satu minggu sebelum diberikan kepada ayam.
Selain itu, sistem pakan alternatif juga mulai dikembangkan melalui budidaya maggot. Sebagian maggot yang telah bermigrasi kini sudah dapat dimanfaatkan sebagai tambahan pakan ayam, sementara sebagian lainnya mulai berkembang menjadi Black Soldier Fly (BSF) yang akan menjadi sumber produksi maggot berikutnya.
Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah menjaga agar praktik pertanian tetap memiliki dampak lingkungan yang rendah.
Berdasarkan pencatatan menggunakan GHG Calculator, aktivitas budidaya tanaman selama bulan Februari menghasilkan emisi sekitar 0,1794 kg COβ-equivalent. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan target bulanan sebesar 14,7272 kg COβ-eq.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa praktik pertanian yang dilakukan tim mampu menjaga emisi tetap rendah dalam proses produksi.
Walaupun begitu, perjalanan ini tidak lepas dari berbagai tantangan. Cuaca yang tidak menentu menjadi kendala utama yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Beberapa tanaman cabai mati, sementara tanaman wortel tidak berkembang dengan baik. Kondisi ini memaksa tim melakukan penyesuaian strategi, termasuk mengganti komoditas wortel dengan mentimun serta melakukan penanaman ulang cabai yang gagal tumbuh.
Selain itu, tim juga masih menghadapi keterbatasan dalam penyediaan pakan ayam dan pakan maggot. Untuk mengatasinya, mereka mengombinasikan penggunaan pakan lokal dari toko dengan pemanfaatan limbah sayuran dan sisa panen sebagai pakan tambahan bagi maggot.
Meski penuh tantangan, perkembangan di lapangan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kotak lebah sudah menghasilkan madu, maggot mulai dimanfaatkan sebagai pakan ternak, dan lahan sela kopi kini telah diisi tanaman cabai merah. Sistem pertanian yang dibangun perlahan mulai menunjukkan bentuknya sebagai model pertanian terpadu yang efisien dan berkelanjutan.
π¬ βKami belajar bahwa pertanian tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada tanaman yang gagal, ada cuaca yang sulit diprediksi. Tapi dari situ kami belajar beradaptasi, mencoba kembali, dan mengembangkan sistem yang lebih kuat. Pertanian terintegrasi membuat setiap bagian saling mendukung.β
β Elfriday Sihombing, Ketua Farmtastic Team
Cerita Farmtastic Team di Sidikalang menunjukkan bagaimana anak muda di berbagai daerah terus mencoba pendekatan baru dalam pertanian. Dengan menggabungkan kopi, hortikultura, lebah madu, ternak ayam, dan budidaya maggot, mereka sedang membangun ekosistem pertanian yang lebih tangguh, produktif, dan rendah emisi. πΏππ


